Sekitar
jam 13.00 kita pergi dari Matos dan pulang ke rumah. Rencananya sih,
nyegat TSG di perempatan baratnya UB. Di perjalanan menuju ke sana
kita beli cilok bakar, es kopyor, dan yang paling unik kita mengambil
sisa terompet yang digeletakan di pinggir jalan. Duh, aku sudah
bilang ke temen-temen kalau itu tuh ada bekas orang lain. Tapi entah
kenapa, apa mereka terobsesi masa kecil. Tolah, Dhimas, Aji, dan Abil
meniupkan terompetnya sepanjang jalan. Aku dan Fikri merasa sukar
karena malu. Mereka berempat selalu saja mendekati kita dan meniupkan
terompetnya. Saat menunggu mikrolet TSG pun mereka masih saja
main-main.
Tahu
tidak kalau kita menunggu lama mikrolet TSG dan ternyata mikrolet itu
direbut oleh orang lain dan sudah penuh. Bayangkan, menuggu duluan,
naik gak duluan. Menunggu dan menunggu, capek sekali ya menunggu itu.
Karena terlalu lama, akhirnya kita jalan ke arah selatan dan nyegat
mikrolet MK. Di situ aku juga lama menunggu dan akhirnya kita jalan
kaki deh, menyusuri trayeknya MK. Jalan yang cukup jauh harus
kutempuh. Sejauh 4 km kayaknya, dan belum menemukan MK blas. Di ¾
jalan tak kami duga MK lewat begitu saja. Kami hanya bisa marah dalam
hati, mau sampai aja mikrolet MK ada, kok gak mulai tadi. Aku bilang
ke teman-teman gak usah naek wes, mau sampai aja lho. Kita juuga
sempat ngiup karena hujan yang sangat lebat. Karena nafsu kami yang
cukup besar, akhirnya kami semua jalan kaki di tengah guyuran hujan.
Duh, duh, untungnya kita selamat di rumah dan beberapa hari kemudian
ternyata tidak ada yang sakit lho,..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar